29 April 2011

Lowongan Tenaga Ahli Pustakawan

----- Forwarded Message ----
From: Adhitya Wirayasa
To: DevJobsIndo
Cc: Kurnia Ratna Dewi ; Nur Aisyah
Sent: Wed, April 27, 2011 2:45:44 PM
Subject: [DevJobsIndo] Lowongan Tenaga Ahli Pustakawan

Moderator, mohon di-infokan kepada member yang ada, terima kasih.

Waspola Phase III (Waspola
Facility)
http://waspola.org/index.php?option=com_content&view=article&id=16&Itemid=27

merupakan suatu kegiatan/Project dari AusAID yang di administrasikan melalui
Bank Dunia untuk pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan akses
masyarakat, khususnya kelompok masyarakat miskin, terhadap air minum dan
sanitasi yang lebih baik dan berkelanjutan, serta memberikan kontribusi terhadap

peningkatan ekonomi dan mendukung pencapaian Millennium Development Goals (MDGs)

khususnya target air minum dan sanitasi pada tahun 2015.

Hibah ini bertujuan untuk untuk memperkuat kapasitas Pemerintah Indonesia untuk
memandu pembangunan di sektor air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) dengan
menekankan kepada pendekatan partisipatif dan responsif kepada permintaan,
melalui pembentukan Fasilitas yang memiliki fleksibilitas untuk merespon
kebutuhan yang muncul dan isu-isu dalam area program (pengembangan kebijakan,
pelaksanaan kebijakan, dan manajemen sektor).

Pentingnya mengelola informasi untuk menjadi pengetahuan (knowledge management)
yang berguna bagi siapapun yang berkepentingan dalam pembangunan AMPL telah
mendesak. Namun data dan informasi yang ada tersebut belum terkelola dan
didistribusikan dengan baik. Untuk itulah Pokja AMPL Nasional bersama Waspola
Facility merasa perlu untuk merancang dan menggalang pembentukan suatu pusat
pengelolaan data dan informasi AMPL bagi stakeholders utama. Bukan hanya untuk
berbagai sektor dalam pemerintahan yang terkait, namun akan sangat berguna bagi
para akademisi, para ahli, aktivis, pihak swasta, pelaku bisnis dan industri
maupun bagi publik secara luas.

Terkait dengan hal tersebut, semenjak tahun 2007 Pokja AMPL Nasional telah
mengembangkan suatu resource center atau Pusat Informasi AMPL (PIN AMPL). Selama

tiga tahun pengembangannya, Pusat Informasi AMPL ini telah menghasilkan banyak
produk, diantaranya adalah perpustakaan dan materi publikasi AMPL dalam varian
bentuk seperti buku, majalah, newsletter dan sebagainya. Selain itu, sebagai
upaya sosialisasi dan advokasi para pemangku kepentingan, Pokja AMPL juga
melakukan diseminasi informasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan maupun dengan
menggunakan teknologi informasi, seperti situs dan mailing list.

untuk mendukung kegiatan PIN AMPL, maka dibutuhkan satu orang tenaga ahli
Pustakawan dengan kriteria sebagai berikut:

Ahli Perpustakaan ( 1 orang, waktu 7 bulan)

a. Kedudukan
Dalam pelaksanaan kegiatan Waspola Facility, tenaga ahli yang dikontrak
berkedudukan sebagai Tenaga Ahli Perpustakaan PIN AMPL.

b. Tugas
Secara umum, tugas Tenaga Ahli Perpustakaan adalah untuk membantu pengembangan
perpustakaan Pusat Informasi Nasional (PIN) AMPL melalui Divisi Perpustakaan.
Divisi ini bertujuan untuk melakukan pengelolaan dan pengembangan koleksi
kepustakaan AMPL dalam rangka membangun resource centre AMPL di Indonesia.
Tujuan spesifik dari kegiatan perpustakaan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengembangkan dan mengelola koleksi kepustakaan dan informasi AMPL, baik

dalam negeri maupun luar negeri;
2. Menyebarluaskan informasi dan koleksi kepustakaan AMPL;
3. Mengembangkan dan memperluas kerjasama jaringan perpustakaan.

c. Tanggung Jawab
Tenaga Ahli Perpustakaan ini bertanggung jawab kepada Koordinator PIN AMPL dalam

melaksanakan tugasnya dan kepada kepala Pokja AMPL Nasional.

d. Output
Keluaran yang diharapkan dari divisi perpustakaan PIN AMPL ini adalah:
1. Terwujudkan perpustakaan AMPL yang dapat menjadi referensi AMPL di
Indonesia;
2. Tersebarluaskannya informasi dan koleksi kepustakaan AMPL;
3. Berkembangnya jaringan perpustakaan AMPL di Indonesia.

e. Kualifikasi
Penyelenggaraan divisi perpustakaan PIN AMPL ini didukung oleh Tenaga ahli
perpustakaan (1 orang); dengan kualifikasi pendidikan pendidikan S1 Ilmu
Perpustakaan dengan pengalaman minimal 3 tahun, dengan deskripsi kerjaan sebagai

berikut:
1. Melakukan kegiatan-kegiatan teknis dari perpustakaan, meliputi;
pengadaan, pengolahan, penyimpanan (dalam bentuk media lain) / penyusunan
/database (entry data), temu balik informasi, pemeliharaan koleksi perpustakaan,

stock opname, serta penyebaran informasi pustaka terbaru AMPL
(http://digilib-ampl.net),
2. Melakukan kegiatan jasa layanan kepada pengguna, meliputi layanan
sirkulasi (peminjaman dan pengembalian koleksi), layanan referensi/ rujukan,
layanan membaca di tempat, layanan fotocopy dan pemesanan koleksi AMPL
(http://geraiampl.com);
3. Melakukan kegiatan promosi, distribusi dan kerjasama jaringan
perpustakaan, yang meliputi penyebaran dan marketing informasi (milis,
newsletter, digital library, dll), serta mengembangkan kerjasama jaringan
perpustakaan digital AMPL.

f. Masa Kerja
Tenaga Ahli Perpustakaan dikontrak selama 7 (tujuh) bulan terhitung sejak
tanggal penandatanganan kontrak kerja dengan Direktorat Permukiman dan
Perumahan, Bappenas. dengan kemungkinan perpanjangan kontrak hingga waktu yang
belum ditentukan.

Paling lambat CV dikumpulkan pada tanggal 4 Mei 2011 ke alamat:
adhit_wirayasa@yahoo.com cc: dewi@ampl.or.id Best Regards,

Adhitya Wirayasa
Sekretariat Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan /
Set. POKJA AMPL (Phone/Fax: 021 31904113)
cq. Direktorat Permukiman dan Perumahan Bappenas
http://www.ampl.or.id/

26 April 2011

Social Computing dan Perpustakaan Digital

Istilah social computing merujuk ke penggunaan komputer secara meluas oleh berbagai lapisan masyarakat untuk saling berhubungan, menciptakan jaringan sosial (social network), mengandalkan perangkat yang mudah diperoleh dan mudah dioperasikan. Arti atau makna social computing lebih luas dari  Web 2.0 atau Internet 2.0 sebab kedua istilah terakhir ini lebih merupakan versi terakhir dalam perubahan teknologi Internet, sementara social computing dapat dipakai untuk trend perubahan itu sendiri. Termasuk dalam trend ini adalah segala yang terjadi saat ini, berupa blogs, podcasts, wikis,  situs lelang barang (auction web sites), online games, VoIP dan peer-to-peer services   – semuanya memanfaatkan fasilitas koneksi global Internet menghubungkan orang dan isi informasi (content).
Menurut  Pascu dan kawan-kawan (2008),  salah satu ciri khas aplikasi-aplikasi social computing adalah semakin kuatnya keterlibatan pengguna akhir (end-users) dalam proses produksi informasi, pengetahuan, dan inovasi.  Jika sebelumnya ada pemisahan yang jelas antara “produsen” dan “konsumen” informasi, maka kini pemisahan itu semakin mengabur.  Pemikir masyarakat informasi,  Alvin Toffler, menengarai gejala ini 20 tahun yang silam ketika ia menggunakan istilah  prosumer dalam industri informasi. Dalam social computing, pengguna atau konsumen adalah sekaligus pemasok isi (content). Aplikasi-aplikasi social computing seperti blogs, podcast, wikipedia, YouTube, dan sebagainya, memudahkan orang saling betukar dan saling memakai tulisan, audiovisual, dan alamat kontak. Keadaan ini langsung mengubah total hubungan antara “produsen” dan “konsumen” dalam konstalasi industri media.
Hal lain yang harus juga segera disimak adalah peran pengguna atau konsumen dalam mendukung distribusi isi dan jasa informasi. Pada sebuah peer-to-peer networks dan wifi sharing, pengguna atau konsumen sebenarnya berperan sebagai bagian dari “transportasi”  isi dan jasa tersebut; mereka ikut menjadi distributor dari sebuah isi informasi. Bahkan di eBay, si pengguna adalah tukan ngepak dan ngirim barang juga :-) .    Tambahan lagi, seorang pengguna atau konsumen juga memainkan peran penting dalam menemukan, memilih, dan menyaring isi dan jasa informasi. Berbagai search engine sudah lama memanfaatkan kenyataan ini dengan berupaya menggalang  penilaian oleh masyarakat tentang seberapa dibutuhkannya sebuah situs. Situs-situs wiki  juga bergantung pada masyarakat untuk mengevaluasi dan memilih kualitas isinya. Demikian pula teknologi tagging sudah semakin sering dijadikan cara berbagi selera (taste-sharing) antar anggota masyarakat.
Fenomena ini meluas ke segala pelosok dunia, menerobos batas-batas budaya. Tidaklah heran jika para akademisi dan pihak industri sekarang sedang bahu-membahu mengamati dan mencari-tahu lebih banyak, apa yang sesungguhnya terjadi di Internet ini. Dalam situs mereka (http://www.asis.org/Conferences/SCS08/SCS08.html) American Society for Information Science and Technology (ASIS&T) memakai istilah social software and computing sebagai penggerak teknologi Web 2.0.  Mereka juga menggunakan istilah social networking services (jasa berbasis jaringan sosial) yang melahirkan ciri-ciri baru dalam hal privacy, identitas dan manajemen hubungan antar manusia. Mereka percaya bahwa teknologi browser dan mobile devices akan melahirkan apa yang mereka sebut “kehadiran dan konektivitas tanpa batas” (ubiquitous connectivity and presence) yang akan mengubah total konsep sosial-budaya dan bisnis di seluruh dunia.
Secara khusus, di dunia akademik sebenarnya juga sudah ada semacam konsentrasi penelitian yang disebut social informatics, yaitu: 
The interdisciplinary study of the design, uses and consequences of information technologies that takes into account their interaction with institutional and cultural contexts. [baca selengkapnya di : http://www.dlib.org/dlib/january99/kling/01kling.html].
Salah satu situs pendukung studi khusus ini [http://rkcsi.indiana.edu/index.php/about-social-informatics] menjelaskan lebih lanjut bahwa Social Informatics (SI) merupakan sekumpulan penelitian dan studi yang mempelajari aspek-aspek sosial dari komputerisasi termasuk peran teknologi informasi dalam perubahan sosial dan organisasi. Penelitian-penelitian SI juga berkonsentrasi pada  bagaimana pemanfaatan teknologi informasi dipengaruhi oleh nilai dan praktik-praktik sosial-budaya di sebuah masyarakat.  Di dalam kajian-kajian SI terdapat cabang-cabang khusus seperti dampak sosial dari penerapan komputer (social impacts of computing), analisis sosial terhadap komputerisasi (social analysis of computing), kajian-kajian  komunikasi berperantaraan komputer  (computer-mediate communication alias CMC), kebijakan informasi, informatika organisasi (organizational informatics), informatika interpretif (interpretive informatics), dan sebagainya.
Di dunia perpustakaan dan informasi, social computing dan social informatics jelas sekali memengaruhi pemikiran dan praktik dalam Perpustakaan Digital (digital libraries), khususnya dalam hal peran “orang ketiga”  di antara produsen dan konsumen informasi. Model-model Perpustakaan Digital, misalnya sebagaimana yang terlihat di Model OAIS, jelas sekali berupaya menegaskan peran-peran baru yang dapat dimainkan “orang ketiga” ini. Di dalam kondisi “tradisional” ketika format informasi didominasi oleh barang-barang tercetak, peran pustakawan dan profesi informasi jelas sekali berada di antara produsen dan konsumen. Saat ini, dalam kondisi social computing yang sudah melebur batas antara produsen dan konsumen informasi, peran pustakawan dan profesi informasi itu perlu ditinjau kembali. Jika dahulu timbul kesan bahwa pustakawan dan profesional informasi condong ke konsumen, maka sekarang kesan itu harus disesuaikan dengan kenyataan bahwa si konsumen dapat juga sekaligus berperan sebagai produsen.
Dalam keadaan seperti itu, mungkin saja “orang ketiga” tidak lagi diperlukan sebagai “perantara” melainkan lebih sebagai “penengah”. Artinya, pustakawan bukan lagi pihak yang berada di antara produsen dan pengguna informasi dalam posisi yang jelas, melainkan sebagai bagian dari hubungan keduanya: menjadi pihak yang terus menerus memperlancar hubungan antara keduanya, atau bahkan sesekali menjadi salah satunya. Seorang pustakawan akhirnya juga menjadi produsen dan konsumen informasi. Posisi ini, tentu saja, menjadi amat sangat menantang!
Bacaan:
Pascu, C., et al. (2008), “Social computing: implications for the EU innovation landscape” dalam Foresight : the Journal of Futures Studies, Strategic Thinking and Policy. Vol. 10 no. 1; hal. 37-52

Urgently Required Librarian Staff.

Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) is an emerging university, aspiring for excellent education with many stakeholders. We hereby would lik...